Arsip

Central Control Traffic

and

Information Surakarta

- CCTIS

Dishubkominfo Surakarta Memiliki 48 CCTV

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surakarta memasang 48 kamera. Selengkapnya !

Sepur kluthuk

Sepur Kluthuk Jaladara , Kereta api loko uap C 1218. kereta wisata dengan jalur sepanjang 5,6 km.

JADWAL dan PEMESANAN

Sekretariat
UPTD.PERPARKIRAN
TEKSAR
image

Teknik Sarana dan Prasarana

TERMINAL TIRTONADI
SOLO CAR FREE DAY

TIAP HARI MINGGU PUKUL 05.00 - 09.00, HARI BEBAS KENDARAAN BERMOTOR

PIALA WTN, HARAPAN, TANTANGAN DAN PELUANG SOLO
DI MASA MENDATANG


Piala Wahana Tata Nugraha/Lomba Tertib Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Tingkat Nasional atau sering dikenal sebagai piala WTN telah diterima Kota Surakarta, lomba WTN dengan segala tahapannya yang telah dilalui dan kepercayaan dan amanah dari Panitia Lomba WTN telah menunjuk Kota Surakarta sebagai kota pemenang piala WTN 2009 kategori Kota Besar bersama Kota Pekanbaru yang diserahkan Bapak Menteri Perhubungan Freddy Numberi kepada Bapak Walikota Surakarta Ir.Joko Widodo hari Selasa, tanggal 28 September 2010 di Ruag Mataram, Kantor Kementrian Perhubungan Republik Indonesia, Kata pemenang mengandung makna tanggung jawab besar yang harus diemban kita bersama, pemenang juga mengandung arti penilaian panitia adalah sama dengan penilaian masyarakat. Itulah hal yang berat dan harus dilaksanakannya amanah masyarakat terhadap ketertiban berlalu lintas dan penanganan lalu lintas dan angkutan jalan. Dinas/instansi terkait pembinaan jalan, seperti Dinas Perhubungan, Kepolisian, Dinas Pekerjaan Umum, dan dinas/instansi lainnya yang juga ikut berperan telah berusaha semaksimal mungkin sesuai tugas pokok dan fungsinya untuk mewujudkan pelayanan system transportasi yang baik.

Lomba Tertib Lalu Lintas dan Angkutan Kota tidak hanya mengacu pada tingkat ketertiban dalam berlalu lintas namun juga menilai aspek-aspek lain, yaitu penataan sistem transportasi kota, inovasi, kreativitas pemerintah kota dan tentunya political will.

Banyak sekali program-program peningkatan sistem transportasi yang dalam proses dan harus segera kita terapkan dalam waktu dekat, Sustainable Transport System atau Sistem Transportasi berkelanjutan sudah harus menjadi harga mati dari program Pemerintah Kota Surakarta, sejak dari Kementrian Perhubungan, Pemerintah Tingkat Propinsi sampai dengan Pemerintah Kota/Kabupaten dan semuanya agar menjadi sinergis.

Sustainable transport meliputi banyak program dan berkelanjutan serta dibutuhkan political will yang tinggi dalam pelaksanaannya. Kota Surakarta telah berusaha menerapkan Sustainable Transport diawali dengan program peningkatan pelayanan angkutan umum, baik di terminal dengan perluasan terminal Tirtonadi ke barat dengan sistem pelayanan yang mengadopsi Terminal di Singapura maupun penyediaan Angkutan Umum Massal (Bathik Solo Trans) yang juga sudah mulai beroperasi beberapa waktu lalu peningkatan system transportasi angkutan umum massal merupakan wujud utama dari kebijakan transportasi dari Walikota Surakarta “MOVE PEOPLE NOT CARS”, Suatu langkah Analisis Dampak Lalu Lintas Tata Guna Lahan sangat dibutuhkan sebagai pengontrol pertumbungan tata guna lahan baru, seperti mall, hotel dan tata guna lahan baru lainnya sehingga minimal mengantisipasi kemacetan yang menjadi dampaknya baik ketika pelaksanaan pembangunan, pasca beroperasinya pembangunan maupun antisipasi dampak lalu lintas pada beberapa tahun mendatang dan tentunya partisipasi dan kesadaran penuh dari pembangun/investor sangat dibutuhkan, lalu program City Walk di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, dimana banyak masyarakat belum mengerti benar tentang fungsinya, kawasan City Walk bertujuan sebagai kawasan srawung warga, namun sayangnya masyarakat belum mengoptimalkan kawasan ini, dan pemerintah Kota Surakarta sendiri sudah merangsang warganya untuk srawung dengan penyediaan taman, kursi, lokasi yang teduh bahkan dengan penyediaan fasilitas hot-spot internet gratis di sepanjang lokasi City Walk. Berikutnya Manajemen dan rekayasa Lalu Lintas yang diterapkan di Kota Surakarta telah mengurangi lokasi rawan kemacetan dan rawan kecelakaan dan pastinya juga harus kita siapkan manajemen dan rekayasa lalu lintas baru guna mengantisipasi beroperasinya jalan Tol Semarang – Solo, dimana jumlah kendaraan masuk kota Solo akan bertambah banyak dan memberikan pembebanan tersendiri terutama pada kawasan terdampak dekat pintu tol Solo dan umunya pada wilayah Kota Surakarta, Serta tentunya Solo Car Free Day telah menjadi ikon baru Kota Surakarta yang dilaksanakan setiap hari Minggu pagi pukul 05.00 WIB sampai dengan pukul 09.00 WIB. Suatu teknologi system traffic light baru telah dimiliki Kota Surakarta sejak tahun 2006 dan sampai dengan tahun 2010 ini selalu ditambah dan disempurnakan, Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas Area Traffic Control System (APILL ATCS) telah merubah tingkat kedisiplinan masyarakat pengguna jalan, bentuk dan fasilitas lalu lintas ini telah menunjukkan ketegasan dalam peraturan dibandingkan bentuk APILL yang masih lama. Program peningkatan keselamatan yang menjadi andalan Pemerintah Kota Surakarta sesuai pula dengan slogan yang didengungkan Kementrian Perhubungan sekarang ini, “Keselamatan di jalan adalah tanggung jawab kita bersama” sedang program Pemerintah Kota Surakarta yaitu Sosialisasi dan bantuan ZoSS (Zona Selamat Sekolah), ketika sekolah-sekolah mulai TK, SD, SMP dan SMA/SMK telah diberi bantuan rambu-rambu lalu lintas, zebra cross dan bantuan fasilitas lain, tidak berhenti cukup disitu saja program ini, namun wujud tanggung jawab kita bersama untuk mensosialisasikannya dengan mengunjungi sekolah-sekolah tersebut, mempresentasikan bagaimana tata cara tertib berlalu lintas yang baik dan benar, dan tentunya sesuai dengan tingkatan usia peserta sosialisasi. Masih banyak program-

 

 

program lain dari Pemerintah Kota Surakarta lainnya yang masih dalam pengkajian seperti Parkir kendaraan di batas Kota (Park and Ride) sehingga kendaaran dari luar kota, cukup hanya parkir di lokasi parkir off street batas kota dan menyambung perjalanannya dengan angkutan umum massal yang disediakan nantinya, berikutnya program plat nomor ganjil genap sebagai langkah pembatasan pergerakan kendaraan bermotor, begitu pula optimalisasi jalur lambat sebagai jalur khusus kendaraan tidak bermotor akan juga menjadi wujud dari keinginan Bapak Walikota Surakarta yang unmotorized oriented dan program lainnya. Semua program tentunya tetap mendasari dari program Kementrian Perhubungan Republik Indonesia dan juga bantuan technical Asisstance dari GTZ (Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit) Jerman serta CDIA (Cities Development Initiative for Asia) yang telah bekerjasama dengan Pemerintah Kota Surakarta beberapa tahun terakhir guna membantu mengatasi akar permasalahan transportasi di Kota Surakarta.

Kota Surakarta telah bangkit dari keterpurukan kerusuhan massal tahun 1998, Kita mendengungkan semboyan “SOLO THE SPIRIT of JAVA”, dengan spirit tersebut maka Kota Surakarta mencoba merubah mindset dari system transportasi lama yang konvensional menjadi system transportasi yang berkelanjutan (Sustainable transport) dan penciptaan lingkungan yang ramah. Suatu cuplikan dari Enrique Penelosa mantan walikota Bogota Kolombia yang menata kota nya dengan sustainable system ketika beliau masih menjabat walikota, dan hal ini yang perlu kita cermati dan pahami sebagai mindset baru, “Kota yang baik dan maju bukanlah dilihat dari semakin banyaknya jalan dan bertingkat-tingkatnya jalan menjadi jalan layang dan sebagainya, namun Kota yang baik dan maju adalah kota yang ramah untuk anak kecil dan orang tua/lansia bersosialisasi dan bermain di luar rumah”.

Penilaian Hal ini mengandung arti bahwa pembangunan jalan tidak akan menyelesaikan permasalahan transportasi, makin lebar dan panjang akan berdampak bertambahnya jumlah kendaraan, khususnya mobil sehingga kemacetan tidak berkurang namun bertambah. Transportasi memiliki sifat unik, dimana setiap kota yang mengalami perkembangan perekonomian pesat, semua bidang akan maju, kecuali TRANSPORTASI, sektor ini justru akan memburuk. Dan diperlukan logika yang berkebalikan pula untuk mengatasi masalah transportasi. Dan penyediaan ruang-ruang public dan fasilitas bagi kendaraan tidak bermotor sangatlah penting, guna melindungi mereka dari persaingan dengan kendaraan bermotor, suatu anggapan bahwa sepeda hanya merupakan perwujudan status sosial seseorang sangatlah keliru, banyak di Negara maju, banyak dari mereka mempunyai mobil namun terangsang dengan penggunaan sepeda dikarenakan tersedianya fasilitas yang memadai untuk kendaraan tidak bermotor, seperti jalur khusus, traffic light khusus pesepeda, lokasi parkir sepeda dan fasilitas lainnya.

Seperti hal nya Penelosa dalam menata kota nya, Bapak Walikota Surakarta juga perlu kiranya kita acungi jempol, dengan kebijakannya MOVE PEOPLE NOT CAR, disampaikan beliau bahwa “yang digerakkan itu masyarakatnya, bukan mobilnya, Saya menata kota memang eksrem, kalau tidak, ya tidak selesai-selesai”, suatu pernyataan yang berani, yang pantas kita dukung semua.

. Dan sudah saatnya juga perbaikan lingkungan kita laksanakan sekaligus mendukung program pemerintah “go green” guna mengantisipasi global warming yang telah kita rasakan semua dampaknya.

Untuk itulah, pada kesempatan diharapkan kita semua untuk mempunyai mindset baru, membuka cakrawala dan mengembangkan potensi-potensi yang ada dan selalu mewujudkan system transportasi yang berkelanjutan dan tanamkan selalu pada diri masyarakat kota Surakarta, yaitu “TERTIB BERLALU LINTAS CERMIN BUDAYA WONG SOLO” semoga bisa menjadi virus positif bagi kita semua.

Terimakasih atas perhatiannya.

Penulis :

ARI WIBOWO, S.SiT (Dishub Surakarta)

e-mail : ariwibowo_dllajsolo@ymail.com

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

Robertus Dirta Budi Santoso (Dishub Surakarta)

Copyright © 2018 DISHUBKOMINFO KOTA SURAKARTA · All Rights Reserved